Mindset yang harus ditanamkan dalam mencari mentor

Irfan Yulianto
|
April 26, 2022

Mentor sebagai pendorong

Karir merupakan dunia yang kompleks dan dinamis. Terutama bagi mereka yang baru memulai dan merintis karirnya. Tidak jarang, saat awal meniti karir pun tenaga kita habiskan lebih banyak daripada mereka yang memiliki karir yang lebih stabil. Bahkan, saat kita sudah menemukan sumber belajar dan roadmap pribadi terkadang masih ada kendala dalam menerapkan. Sehingga dijalankan secara kurang konsisten dan menyebabkan progress belajar menjadi tidak tertata kembali.

Dalam proses ini kita membutuhkan support system, tidak hanya dari keluarga, teman ataupun orang terdekat lainya. Namun, ada support system yang juga tidak kalah penting dalam hal ini yaitu mentor. Mentor merupakan support system yang memiliki ilmu pengetahuan terkait dan memiliki pengalaman lebih banyak dibanding kita. Mendapatkan mentor juga memiliki banyak sekali manfaat dalam pengembangan karir. Namun, dalam tulisan ini tidak membahas bagaimana cara mendapatkan mentor. Karena hal ini sudah banyak dibahas di medium. Salah satunya tulisan mentor saya Mas Ravi Mahfunda terkait nilai penting mentor dan cara mendapatkan mentor. Penulis sangat menyarankan untuk membaca artikel tersebut.

Tulisan ini lebih berfokus untuk membagikan mindset penulis saat awal mencari mentor. Bukan karena tidak adanya akses terhadap mentor. Namun, lebih karena mindset yang dimiliki mentee sehingga membuat mentee sungkan atau tidak jadi menghubungi mentor untuk melakukan mentorship.

Penyebab sungkan atau tidak menghubungi mentor

Berawal dari pengalaman penulis, disaat awal-awal belajar pernah merasakan stuck dan bingung dengan roadmap belajar yang sudah dibuat. Hal ini dikarenakan saat mempelajari mindset desainer pengalaman, masih banyak yang tidak terjelaskan dalam kursus, buku ataupun sumber lainya. Karena saat mengerjakan studi kasus spesifik, terkadang butuh penjelasan yang spesifik sesuai konteksnya.

Penulis mencari mentor gratis karena saat itu tidak ada biaya lebih untuk mengikuti mentoring berbayar. Ternyata banyak komunitas yang menyediakan mentoring berkualitas, namun berbasis sukarela. Meskipun sukarela, mentor tetap memiliki komitmen membantu mentee secara maksimal. Berbagai tempat seperti di telegram ada komunitas produk desainer seperti Design Jam Indonesia. Selain itu, ada pula komunitas internasional seperti ADPList, Mentoring Club dan komunitas Google UXmate (kumpulan siswa dari kursus Google UX di Coursera).

Adanya akses terhadap mentor sudah dimiliki, namun ternyata masih ada pikiran yang mengganjal. Seperti contohnya, kalau aku mengganggu waktu mentornya gimana? Aku kurang bisa berbahasa inggris, nanti gimana cara komunikasinya? Jika saya tidak bisa berkomitmen bagaimana?. Hal ini yang menjadi pertanyaan dalam diri dan menimbulkan keraguan dan justru menunda untuk menghubungi mentor. Pada akhirnya kita yang kebingungan sendiri, karena tidak menemukan jawaban atas pertanyaan studi kasus yang dikerjakan.

Photo by Magnet.me on Unsplash

Pada intinya disini penulis memiliki masalah overthinking. Keberanian dalam mencoba yang harus dilawan, karena kita sebenarnya terlalu overthinking sebelum mencoba. Dimana secara realitas bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Penulis pun mencoba untuk melawan overthinking dengan membooking jadwal di ADPList dan mengikuti mentroring Design Jam Indonesia. Namun, bagaimana prosesnya bisa melawan overthinking tersebut?

Mindset yang harus dimiliki

Dari berbagai pengalaman penulis saat melakukan mentorship setidaknya 3 mentor, terdapat adanya pola seperti :

Mentor juga suka belajar dan membantu

Mentor itu maknanya mereka yang senantiasa memberikan kita jawaban atas setiap pertanyaan kita. Artinya secara umum, setiap mentor adalah orang yang memiliki kepribadian untuk berbagi yang tinggi. Hal ini dapat kita temui dari berbagai kegiatan yang dilakukan mentor seperti sering berbagi konten tulisan, artikel, video, podcast dan lainya. Mentor juga senantiasa menyempatkan waktu untuk menjawab setiap pertanyaan kita, termasuk memberikan review atas pekerjaan kita dan memberikan masukan.

Penulis sangat bersemangat pada saat melakukan mentorship dengan mengerjakan setiap tugas yang diberikan mentor. Ternyata, mentor juga belajar dari perspektif orang lain. Karena, setiap orang punya analisa dan perspektif yang unik dalam mengerjakan suatu tugas. Tidak hanya itu, mentor juga sangat bahagia saat mentee nya mendapatkan pekerjaan dan semangat itu menularkan juga kepada mentor. Hal ini sama seperti saat kita merasakan kebahagiaan memberikan amal bagi orang lain dan kita melihat sendiri dampak dari amal yang kita berikan.

Kendala bahasa

Mentorship tidak harus menunggu kita sempurna. Penulis pernah mengungkapkan kekurangan penulis pada salah satu teman yang berasal dari Prancis. Karena bahasa inggris penulis yang lebih condong pada mendengar, sedangkan untuk speaking masih jauh dari ideal. Teman penulis memberikan saran seperti ini :

Screenshot chat dengan salah satu teman di Google UXmate

Jadi, dengan adanya saran diatas. Penulis benar-benar memberanikan diri dalam mencoba berbicara bahasa inggris kepada teman-teman di Google UXmate untuk berlatih. Bersama-sama mereview pekerjaan kami untuk menyelesaikan sertifikasi Google UX di Coursera. Bagi saya, Lixia ini juga salah satu mentor dalam mendorong saya agar berani speak up dalam bahasa inggris meskipun banyak kekurangan. Namun, mereka sangat memaklumi hal tersebut.

Tidak hanya itu, penulis juga mencoba booking mentor di ADPList yang mayoritas berisi orang diberbagai negara. Saat itu, masih sangat sedikit mentor yang berasal dari Indonesia. Sehingga saya booking mentor dari luar dan melatih kemampuan bahasa inggris untuk menyampaikan kendala belajar. Mentor pun juga memberikan saran yang berharga meskipun bahasa inggris kita jauh dari sempurna.

Khawatir tidak bisa komitmen

Menurut penulis, tidak perlu khawatir karena kita sendiri sebenarnya sudah tertanam dalam diri untuk menghargai setiap waktu dari mentor. Mentee tinggal berfokus pada masalah apa yang menjadi pertanyaan dan mentor akan membantu menjawabnya. Sesimpel itu, karena mentorship tidak harus bersifat jangka panjang. Namun, adapula yang bersifat jangka panjang.

Setidaknya kita perlu mencoba untuk speak up dan berbicara pada mentor. Kekhawatiran itu hanya ada dalam pikiran dan realitas yang penulis alami tidak seperti yang dipikirkan. Jadi, apa salahnya mencoba?

Mencoba mentorship

Mentorship sendiri adalah lahan untuk belajar antara mentor dan mentee. Sebagai lahan membangun networking, mentorship akan membuka jalan kita untuk mendapatkan pengetahuan yang baru dan unik dari perspektif orang yang berpengalaman. Sudah siap untuk coba mentorship?

Written by
Irfan Yulianto
Indonesia-based Product Designer who crafts minimal, useful and easy to use interfaces. A lifelong learner and passionate about how design and technology can make a good impact on people's lives